WHO AM I ?

GOD WILL GIVE ME ANYTHING I WANT IN RIGHT TIME

Selasa, 23 Oktober 2012

tanggapanku



Puasa adalah suatu kewajiban yang dilakukan bagi pemeluk agama Islam di dunia, dimana dalam satu bulan penuh mereka tidak makan ataupun minum, menahan hawa nafsu, ataupun tidak melakukan hal kebiasaan yang tidak baik, seperti ngomong jorok, menyontek, marah, dan lain-lain. Jadi, puasa bisa dianggap adalah bulan suci karena bulan ini penuh dengan kebaikan.

Puasa di Indonesia apalagi, kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai lima agama resmi, yaitu Kristen, Katolik, Hindu, Islam, dan Budha, tetapi mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam, jadi pantas saja event-event atau hari besar agama Islam di Indonesia sangatlah penting. Lihat aja di televisi, saat memasuki Ramadhan, banyak acara televisi berubah menjadi sangat religius, acara-acara terkait unsur agama Islam sangatlah banyak dari iklan sampai sinetron sangat Islam sekali bukan? Islam memang sangat mendominasi Indonesia.

Puasa memang baik, melatih kita untuk menjadi orang yang lebih beriman yang taat pada perintah-Nya. Tetapi haruskah semua orang mengikuti puasa? Termasuk yang berbeda agama? Apakah toleransi masih ada? Ingat Indonesia adalah negara yang memiliki multikultur agama, bukan negara Islam. Perlukah rasa fanatik pada agama sendiri untuk menghancurkan agama lain, menganggap agama lain tidak ada? Apa kata ini cocok “agama mayoritas kita kan Islam, jadi semua harus diatur sesuai agama Islam? Jadi agama lain cuma “numpang”?

Masalah fanatisme agama memang banyak terjadi pada negara yang memiliki sebuah agama yang dianut oleh sebagian besar penduduknya, jadi agama lain dianggap salah dan agamanya sendiri adalah benar. Salah satunya Indonesia. Negara kita memiliki salah satu kelompok terbesar yang kita anggap sangat fanatik pada agamanya. Pernahkah anda mendengar istilah “FPI”?  ya FPI adalah singkatan dari Front Pembela Islam, yaitu organisasi yang sangat mengatasnamakan Islam pada setiap kegiatan yang dilakukannya, mereka percaya kegiatan yang mereka lakukan berdasarkan ajaran Al-Qur’an. Menurut kami, mereka sangat mengidamkan kehidupan seperti pada ajaran Islam.

Sebenarnya ada baiknya fanatisme pada suatu agama, tetapi lebih baik kita juga belajar agama lain agar kita mengetahui keberagaman agama-agama itu sendiri dan menimbulkan kehidupan yang toleran. Tetapi masalah FPI ini adalah cara yang digunakan untuk membuat kehidupan lebih baik itu salah. Mereka terlihat seperti memaksa dan egois, sering menggunakan kekerasan agar keinginan mereka itu tercapai. Mereka jarang memberi peringatan dahulu, tetapi langsung bertindak. Jika mereka melihat hal yang tidak mereka suka, mereka langsung eksekusi, datang dengan massa yang banyak, lalu dengan sedikit bicara mereka berusaha agar hal itu tidak terjadi. Mereka selalu menyerukan agama mereka adalah yang paling benar.

Nah, sekarang apa hubungannya puasa dan FPI? Kita tahu bahwa saat puasa, umat muslim dilarang makan dan minum. Tetapi kita juga tahu Indonesia memilik banyak agama selain Islam, jadi godaan untuk makan dan minum tetaplah ada, karena tidak semua orang melakukan puasa. Kita masih saja bisa melihat warung makan yang buka disana sini walau saat bulan puasa. Tetapi bagi mereka pemilik warung yang berjualan saat puasa sebaiknya hati-hati, jika FPI mengetahui aktivitas anda bersiaplah warung anda akan hancur, mereka akan memaksa warung anda ditutup, anda tak akan bisa berkata apa-apa karena mereka akan datang dalam jumlah besar. Ingatlah, FPI sangat agamis sekali. Karena puasa adalah kewajiban umat muslim, maka masyarakat yang beragama lain mau tidak mau harus menghargainya dengan tidak mengganggu kegiatan puasa itu. Alasan utama mereka mengacak-acak warung biasanya agar umat lain mau toleransi dengan umat Islam yang menjalankan puasa.

Cara yang dilakukan ini menurut kami tidak etis dan di luar batas. Terlalu mengandung unsur kekerasan. Sebaiknya sweeping ini sebelumnya warga yang memiliki warung diberi peringatan agar tidak membuka warungnya saat puasa jangan langsung seenaknya sendiri merusak warung orang lain. Lebih baik lagi jika umat muslim tetap berpuasa dan warung makan tetap buka. Anggap saja warung buka itu adalah godaan, jika mereka mempunyai iman yang kuat mereka tidak akan tergoda untuk makan. Kita juga harus sadar kita hidup di negara yang pluralisme, jadi jika ada orang yang makan saat puasa biarkan saja. Kita harus saling menjaga sikap toleransi kita, setiap agama memiliki kewajiban yang berbeda-beda. 

Nah sekarang, semisal jika orang Katolik berpuasa saat mendekati hari Paskah. Apa warung-warung makan tutup? Apa akan ada sweeping untuk menutup warung secara paksa? Orang lain yang tidak berpuasa bebas mau makan kan? Intinya walau umat Katolik di Indonesia cuma minoritas, mereka tidak memaksa orang lain untuk berpuasa.  Bukannya mau mengatakan agama Katolik itu paling baik, tetapi pada dasarnya adalah pemeluk agama tersebut. Jika mereka menganut agama itu dengan baik, maka mereka juga tahu resiko dari mengikuti agama itu.

Dalam ajaran Katolik diajarkan cara bertoleransi. Sebagaimana diajarkan pada Nostra Aetate II : “Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci pada agama-agama ini” artinya Gereja masih percaya diluar agama Katolik terdapat kebenaran. Paus Yohanes XXIII dalam Pacem in terris juga mengatur ajaran tentang toleransi. Ajaran sosial Gereja juga menentang kekerasan atas nama agama “tindak kekerasan tidak pernah menjadi tanggapan yang benar.” 

Kesimpulannya dalam ajaran Katolik diajarkan tentang toleransi umat beragama. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih agama dan menjalankannya agamanya tersebut. Jika kita telah memilih agama, maka lakukanlah ajaran agamamu dengan baik. Tapi kita juga harus ingat pada sekeliling kita, toleransi harus tetap dijaga agar terbentuk kehidupan yang baik dalam keberagaman.

1 komentar:

  1. Permisi, numpang comment

    Di dalam Islam, toleransi terbagi menjadi 2 jenis, yakni aqidah dan muamalah.
    Asbabun nuzulnya, berawal saat ada keinginan dari umat Yahudi untuk saling bertukar Tuhan dengan umat Muslim di zaman Nabi Muhammad SAW. Akibatnya, turun firman Allah dalam Surat Al-Kafirun mengenai toleransi beragama. Di ayat terakhir, ada bacaan : "Bagimu agamamu, bagiku agamaku". Penjelasannya:
    1. Muamalah
    Muamalah berarti berhubungan dengan sesama manusia. Untuk hal ini diperbolehkan.
    Jadi, umat Muslim boleh bantu-membantu dengan umat beragama lain, dan saling bertoleransi dengan agama lain jika mereka sedang beribadah
    2. Aqidah
    Aqidah berarti hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Aqidah bersumber pada keyakinan. Untuk dalam hal ini, Islam tidak diperbolehkan untuk bertoleransi dengan umat lain, karena ini menyangkut masalah keyakinan. Contoh: Mengucapkan selamat natal kepada umat Nasrani.

    Tulisan Anda memang sebuah opini yang notabene subyektif, tidak obyektif. Namun ingat, setiap tulisan juga perlu ada ke-obyektifan-nya.

    Anda menulis: "tetapi lebih baik kita juga belajar agama lain agar kita mengetahui keberagaman agama-agama itu sendiri dan menimbulkan kehidupan yang toleran", padahal saya yakin bahwa Anda tidak tahu dengan pernyataan saya di atas. Artinya, Anda juga tidak belajar agama lain.

    Namun, saya bisa memakluminya, karena Anda adalah kaum minoritas di negeri ini. Semoga pemikiran Anda tak menyimpang lagi mengenai toleransi.
    :)
    Salam Hangat

    BalasHapus